Rabu, 24 Agustus 2016

Al-Ihsan Boarding School

            Sebelumnya aku ingin berterus terang dulu, bahwa tempat yang kubahas saat ini tidaklah berada di Pekanbaru.  Lebih tepat lagi di daerah Kampar, tapi tetap masuk wilayah riau. Atau, lebih tepatnya lagi, perbatasan Pekanbaru Kampar. 
Alamat Al Ihsan Boarding School
            Seperti biasa, cuaca pekanbaru cukup panas siang itu. Sebenarnya, disiang yang panas itu, aku lebih merindukan segelas kopi dan ruangan yang dingin bersama sebuah lantunan music klasik, namun sayangnya, panggilan tugas membuatku harus melupakan saat saat itu.
            Dari Panam, menggunakan motor aku menuju Islamic Boarding School ini. Tidak seperti yang aku perkirakan sebelumnya, ternyata tempat ini tidak terlalu jauh dari Panam. Setelah melewati jalanan Soekarno Hatta, melalui sebuah jalanan kecil yang terletak di depan smk mazmur, kami memasuki sebuah perumahan yang baru dan sedang dibangun. Aku tidak begitu ingat nama perumahannya.
            Dan tidak seperti yang kuperkirakan sebelumnya, ternyata Islamic Boarding School Al-Ihsan ini terletak disamping perumahan itu.
            Pekanbaru memang telah banyak berubah.
            Tidak seperti sekolah yang lain pada umumnya, Islamic Boarding School ini lebih mirip sebuah perkampungan di satu desa yang jauh, yang ditemukan setelah melewati gunung dan melintasi lembah. Pepohonan terlihat banyak tumbuh disana dan beberapa kelas dengan konsep terbuka dan beratapkan rumbia(?), mungkin bermaksud memberikan kesan sederhana kepada para siswa maupun para pengunjungnya, meskipun menurutku pribadi, suasana dan bentuk kelas seperti itu, sangat tidak cocok dengan kondisi pekanbaru yang panas. 
Kelas (Putra) Al-Ihsan Boarding School
 
Suasana Kelas Al-Ihsan Boarding School
            Tapi ya, setiap orang berhak memiliki konsep dan pemikirannya sendiri, juga berhak untuk mengaplikasikannya, meskipun kritik dan koreksi tidak boleh diabaikan.
            Kelas laki laki maupun perempuan terpisah, seperti semua Islamic School atau pesantren pada umumnya. Dan khusus untuk Al-Ihsan Islamic Boarding School, kelas antara ikhwan dan akhwatnya dipisahkan oleh sebuah seng.
            Namun secara keseluruhan, dari yang dapat kulihat, sekolah ini memang sedang melakukan pembenahan. Ada banyak hal yang belum selesai dan ada juga yang terlihat terbengkalai. Dan sepertinya, mereka masih butuh banyak waktu dan dana untuk merapikan semuanya.
            Yups, mungkin gitu aja, untuk mengenal sekolah ini lebih jauh, aku sertakan gambar gambar berikut ini.
 
Suasana sekolahnya yang masih 'hijau'
             
Suasana Lingkungan Al-Ihsan Boarding School yang 'Hijau'
Salah satu ruang utama di Al-Ihsan Boarding School, sepertinya sih ruang guru
Tempat Parkir Tamu Al-Ihsan Boarding School
           
Pos Security Al-Ihsan Boarding School
Berwudhu Sebelum Sholat Ashar
Mungkin segitu dulu aja, kalau ingin tahu lebih banyak, silahkan langsung berkunjung ke pesantrean yang mengusung jargon green kampus ini...

Rabu, 17 Agustus 2016

Bakso Bang Jarwo:Salah satu kuliner terbaru di Pekanbaru


                Malam ini, ketika purnama merajai langit dan mumpung hari libur, aku lagi lagi mengajak istriku untuk makan di luar. Malam ini tujuan kami adalah salah satu tempat makan yang paling merakyat di Indonesia. Warung Bakso. Seperti beberapa tulisanku sebelumnya, warung bakso ini juga terdapat di jalan harapan raya, hanya beberapa meter dari jalan bukit barisan. 
Salam Kenal

Silahkan dipesan
                Pemilik bakso, yang kemungkinan adalah bang Jarwo (aku sendiri tidak bertanya sejauh itu, menyewa salah satu ruko yang termasuk baru dibangun, baru bulan ini, seingatku, aku melihat warung bakso itu sudah mangkal disana..
                Jadi, Bakso Bang Jarwo, adalah salah satu kuliner terbaru di pekanbaru.
                Ketika sampai di tempat itu, warung bakso bang Jarwo masih sepi. Memang, selepas maghrib kami langsung kesana. Tempat duduknya kurang nyaman menurutku dan kata istriku,proses penyajian baksonya lebih lama dari warung bakso pada umumnya.  
                Tapi kalau rasa, menurutku, tidaklah mengecewakan, meskipun juga tidak begitu istimewa.. Paling tidak, aku menyukai bakso uratnya yang dibandrol dengan harga 17000 rupiah, sedangkan mie ayam pesanan istriku (dia memang tidak menyukai bakso) dibandrol dengan harga 11000 rupiah.
Harga yang cukup bersahabat bukan.
Sebagai teman makan, mereka menyediakan tahu, keripik balado, dan juga kerupuk pansit. Kalau minum, mengingat tidak baik minum air dingin sehabis makan dan mengingat tidak baik minum banyak gula, kami memesan air putih. Tapi mereka menyediakan minuman standar, semacam es jeruk dan es teh manis. Ada juga sih yang lain, tapi tidak kuhafal.
Mungkin itu aja, ingin tahu lebih lanjut, kunjungi aja tempat ini…
Ini sedikit foto yang kuambil.

Udah Habis.. Lupa moto waktu makanannya ada
Silahkan Dicicipi Tahunya

Ada Daftar Harganya, jadi ngak bakalan digetok


Mulai Ramai

Ramai (Ada Kerupuk Pangsit)

Setiap Meja ditandai dengan nomor

Sabtu, 13 Agustus 2016

Bakso Cah Agus(dan lain lain): Salah Satu Sudut Kuliner di Pekanbaru



            Waktu itu malam sudah cukup larut, ‘rembulan setengah’ bersinar di langit malam yang terlihat hitam. Entah mendapat inspirasi dari mana, meskipun sudah makan malam, dia mengajakku untuk makan mie ayam dan karena ingin membuatnya senang, meskipun baru pulang kerja, aku menyanggupinya.
            Waktu itu telah mendekati pukul 10 malam, ancaman kegemukan makan malam, sebenarnya menghantuiku ketika aku kembali mengeluarkan sepeda motorku dari halaman rumah. Tapi, janji tetaplah janji, aku tidak bisa mengingkarinya.
            Telah aku bahas pada tulisan sebelum ini bahwa jalan harapan raya adalah jalan yang cukup ramai di kota Pekanbaru, salah satu jalan penting di kota ini, lengkapnya silahkan baca disini http://pekanbarutodays.blogspot.co.id/2016/07/jalan-harapan-raya-pekanbaru.html. Selain itu, yang belum kusinggung adalah, jalan ini juga merupakan jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tempat tinggalku, adalah jalanan yang ramai. Begitu juga malam itu.
            Tujuan kami malam itu adalah  tempat jajanan baksa dan mie ayam yang terletak tepat disamping swalayan metro dan tidak jauh dari (seberang) jalan lumba lumba. Dan meskipun sudah semalam itu, masih ada beberapa motor yang parkir di depannya.
            Hanya saja, di dalam tempat makan bakso itu, para pengunjung memang telah terlihat sepi.
Sepi
Hanya di isi beberapa orang
            Seperti yang sudah kami pikirkan sebelumnya, aku memesan bakso yang biasa dengan minum air putih, sedangkan istriku, memesan makanan kesukaannya, mie ayam dengan minum es jeruk. 
Makanannya masing masing, es jeruknya bagi bagi :)
 
Teman Makan Bakso dan Mie Ayam
            Entah mengapa, sejujurnya menurutku, rasa bakso di tempat ini biasa biasa saja, tidak terlalu istimewa, meskipun juga tidak mengecewakan. Hanya saja, ada tempat makan bakso lain yang lebih kusuka.
            Cukup lama kami di tempat itu dan kami sempatkan mengambil beberapa gambar yang bisa aku bagi di tempat ini.
            Bukan hanya tempat makan baksonya, tapi juga gambar gambar lain yang menandakan bahwa kawasan itu, adalah salah satu tempat bagi warga pekanbaru yang ingin mencari cemilan sebagai teman menonton atau bekerja di malam hari.
            Bukan jenis cemilan yang mewah memang, tapi cukuplah untuk mengisi perut yang kosong, sekaligus mengobati kebosanan.
 
Ada yang jual jeruk

Abang Tahu Sumedang Menunggu Pengunjung
Pisang Coklat Keju yang bertetangga dengan penjual buah
Diseberang Jalan ada Penjual Seafood dan Sambal Pecel lainnya

Udah mungkin segitu aja, intinya sih, kawasan ini lumayan ramai, jadi kalau ada yang suntuk di rumah, malam malam, ingin cari jajanan, datang aja ke tempat ini...


Kamis, 11 Agustus 2016

Menjemput Pagi di Halaman Mesjid Agung An Nur



            Pagi ini, Selasa, 9 Agustus 2016, ada yang berbeda dengan wajah Pekanbaru dibandingkan dengan hari hari sebelumnya, disuatu titik di kotanya kerumunan orang terlihat lebih ramai dari biasanya.  Dan diantara kerumunan itu, aku menjadi salah satunya.
            ***
            Sholat shubuh baru selesai dilaksanakan, ketika kami, dengan sedikit buru buru, bersiap siap menuju mesjid Agung Annur, untuk mengantarkan orang tua kami berangkat ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji. Beberapa tetangga ikut menyertakan kepergian kami, meskipun mereka hanya mengantarkan sampai halaman rumah kami.
            Hari ini, adalah dimana orang tua istriku, untuk pertama kalinya, melaksanakan ibadah haji. 
Keberangkatan Jamaah Haji pagi ini menjadi Headlin di Pekanbaru Pos
            Langit masih terlihat gelap, jalananpun sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang menembus pagi, satu dua orang terlihat berolahraga, menikmati udara pagi demi kesehatan mereka. 
Halaman Mesjid Agung dipenuhi oleh pengantar.
 
(Masih) Halaman Mesjid Agung An Nu
Matahari Mulai Bersinar

             Sesuai jadwal, para jamaah haji harus sampai ke tempat itu saat shubuh, itulah makanya, tempat itu sudah mulai ramai meskipun matahari masih belum menampakkan wujudnya. Orang orang terlihat berkumpul bersama keluarga dan saudara mereka.
Saling melepas dan saling mendoakan.
Begitu juga kami.
Tapi setelah beberapa lama duduk dan berfoto bersama, serta memperhatikan kerumunan orang, belum ada juga pengumuman dari panitia bahwa acara akan segera dilaksanakan,
Ketika keadaan mulai terang, barulah jamaah haji dipanggil ke ruangan.
Setelah beberapa lama, maksudnya, setelah cukup lama,  dan setelah beberapa mobil bis besar parkir di depan mesjid, barulah satu persatu para jamaah haji terlihat keluar dan langsung menuju bus. 
Para Pengantar yang Sedang Menunggu Keberangkatan Jamaah haji
Ramai dan Berdesakan

            Udara sudah mula terasa panas saat itu, sudah masuk waktu sholat dhuha.
            Dan setelah menuggu sekian lama, setelah para jamaah haji itu keluar, keluarga para jamaah hanya bisa menyapa dari luar mobil, melambai, tanpa dapat mendengar dengan jelas suara mereka, terlebih lagi untuk memahami apa yang mereka katakan.
            Setelah orang tua kami, di bis nomor 4, berangkat ke Bandara, barulah kami beranjak pulang.

 
Bis no 4, yang ditumpangi bapak dan ibu mertua, serta bapaka wawako Pekanbaru
 Berhubung sudah siang dan kami harus sarapan, setelah bis nomor 4 meninggalkan mesjid agung, kamipun pulang...


Berangkat

Burung Irian Burung Cendrawasih
Cukup Sekian dan Terimakasih